Rabu, 03 Desember 2014

V-Model


   Teknik V model sering disebut sebagai pengembangan dari teknik waterfall. V model
 untuk verifikasi dan validasi dan merupakan model standar yang banyak dipakai
 di negara-negara Eropa seperti standar untuk proyek pertahanan dan administrasi
 federal di Jerman.
   V model merupakan proses pengembangan perangkat lunak
 (juga berlaku untuk pengembangan hardware) yang dapat dianggap perluasan dari
 model air terjun. Alih-alih bergerak turun dengan cara yang linear, langkah-langkah
 proses yang bengkok ke atas setelah fase coding, untuk membentuk V yang khas.
   V model menunjukkan hubungan antara setiap vase siklus hidup pengembangan dan
 fase terkait pengujian. Sumbu horisontal dan vertikal merupakan kelengkapan waktu
 atau proyek (kiri ke kanan) dan tingkat abstraksi (yang kasar-butiran menonjol abstraksi),
 masing-masing.
   V model digunakan dalam proyek teknologi informasi di negara Jerman.
 Hal ini berlakuterutama untuk proyek teknologi informasi pada pada sektor
 pertahanan negara Jerman. Selainitu, V Model juga digunakan oleh software developer
 negara Jerman untuk proyek teknologi informasi lain.







   1.  Requirement Analysis & Acceptance Testing
    Tahap Requirement Analysis sama seperti yang terdapat dalam
 model waterfall. Keluaran dari tahap ini adalah dokumentasi kebutuhan pengguna.
 Acceptance Testing merupakan tahap yang akan mengkaji apakah dokumentasi
 yang dihasilkan tersebut dapat diterima oleh para pengguna atau tidak.


   2.  System Design & System Testing
    Dalam tahap ini analis sistem mulai merancang sistem dengan mengacu
 pada dokumentasi kebutuhan pengguna yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya.
 Keluaran dari tahap ini adalah spesifikasi software yang meliputi organisasi sistem
 secara umum, struktur data, dan yang lain. Selain itu tahap ini juga menghasilkan
 contoh tampilan window dan juga dokumentasi teknik yang lain seperti Entity Diagram
 dan Data Dictionary.


   3.  Architecture Design & Integration Testing
   Sering juga disebut High Level Design. Dasar dari pemilihan arsitektur
 yang akan digunakan berdasar kepada beberapa hal seperti: pemakaian kembali tiap
 modul, ketergantungan tabel dalam basis data, hubungan antar interface, detail teknologi
 yang dipakai.


   4.  Module Design & Unit Testing
   Sering juga disebut sebagai Low Level Design. Perancangan dipecah
 menjadi modul-modul yang lebih kecil. Setiap modul tersebut diberi
 penjelasan yang cukup untuk memudahkan programmer melakukan coding.
 Tahap ini menghasilkan spesifikasi program seperti: fungsi dan logika tiap modul,
 pesan kesalahan, proses input-output untuk tiap modul, dan lain-lain.


       5.  Coding
         Dalam tahap ini dilakukan pemrograman terhadap setiap modul yang sudah dibentuk.
     Kelebihan V Model memiliki beberapa kelebihan yaitu:
               V Model sangat fleksibel.V Model mendukung Project tailoring dan penambahan
     dan pengurangan method dan tool secara dinamik. Akibatnya sangat mudah untuk
     melakukan tailoring pada V Model agar sesuai dengan suatu proyek tertentu dan
     sangat mudah untuk menambahkan method dan tool baru atau menghilangkan
     method dan tool yang di anggap sudah obsolete.
               V Model dikembangkan dan dimaintain oleh public.User dari V Model berpartisipasi
     dalam change control board yang memproses semua change reguest terhadap V Model.


        Keuntungan V Model :

         1.Bahasa yang digunakan untuk merepresentasikan konsep V model menggunakan
       bahasa formal. Contoh : dengan menggunakan objek model ataupun frame-frame.

         2.Meminimalisasikan kesalahan pada hasil akhir karena ada test pada setiap prosesnya.

         3.Penyesuaian yang cepat pada projek yang baru.

         4.Memudahkan dalam pembuatan dokumen projek.5Biaya yang murah
       dalam perawatan dan modifikasinya

         5.V Model sangat fleksibel. V Model mendukung project tailoring dan
       penambahan dan pengurangan method dan tool secara dinamik.
       Akibatnya sangat mudah untuk melakukan tailoring pada V Model agar sesuai dengan
       suatu proyek tertentu dan sangat mudah untuk menambahkan method dan tool baru
       atau menghilangkan method dan tool yang dianggap sudah obsolute.

         6.V Model dikembangkan dan di-maintain oleh publik. User dari
       V Model berpartisipasi dalam change control board yang memproses semua
       change request terhadap V Model.


        Kerugian V Model :
         1.Aktifitas V-Model hanya difokuskan pada projectnya saja, bukan
       pada keseluruhan organisasi. V-Model adalah proses model yang hanya
       dikerjakan sekali selama project saja, bukan keseluruhan organisasi.

         2.Prosesnya hanya secara sementara. Ketika project selesai, jalannya
       proses model dihentikan. Tidak berlangsung untuk keseluruhan organisasi.

         3.Metode yang ditawarkan terbatas. Sehingga kita tidak memiliki cara
       pandang dari metode yang lain. Kita tidak memiliki kesempatan untuk
       mempertimbangkan jika ada tools lain yang lebih baik.

         4.Toolnya tidak selengkap yang dibicarakan. SDE
       (Software Development Environment). Tidak ada tools untuk hardware di
       V-Model. Tool yang dimaksud adalah “software yang mendukung pengembangan
       atau pemeliharaan / modifikasi dari system IT.

         5.V Model adalah model yang project oriented sehingga hanya bisa digunakan sekali
       dalam suatu proyek.

         6.V Model terlalu fleksibel dalam arti ada beberapa activity dalam V Model
      yang digambarkan terlalu abstrak sehingga tidak bisa diketahui dengan jelas apa
      yang termasuk dalam activity tersebut dan apa yang tidak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar