Rabu, 03 Desember 2014

MODEL WATERFALL

WATERFALL
   Nama model ini sebenarnya adalah “Linear Sequential Model”. Model ini sering disebut dengan
 “classic life cycle” atau model waterfall. Model ini adalah model yang muncul pertama kali
 yaitu sekitar tahun 1970 sehingga sering dianggap kuno, tetapi merupakan model yang paling
 banyak dipakai didalam Software Engineering (SE).
   Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan urut mulai dari 
 level kebutuhan sistem lalu menuju ke tahap analisis, desain, coding, testing / verification, dan 
 maintenance. Disebut dengan waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu 
 selesainya tahap sebelumnya  dan berjalan berurutan. Sebagai contoh tahap desain 
 harus menunggu selesainya tahap sebelumnya yaitu  tahap requirement.Secara umum 
 tahapan pada model waterfall dapat dilihat pada gambar berikut :


   Gambar di atas adalah tahapan umum dari model proses ini. Akan tetapi Roger S. Pressman
 memecah model ini menjadi 6 tahapan meskipun secara garis besar sama dengan 
 tahapan-tahapan model waterfall pada umumnya. Berikut adalah penjelasan dari tahap-tahap 
 yang dilakukan di dalam model ini menurut Pressman:

  • System / Information Engineering and Modeling

   Permodelan ini diawalI dengan mencari kebutuhan dari keseluruhan sistem yang akan 
 diaplikasikan ke dalam bentuk software. Hal ini sangat penting, mengingat software harus 
 dapat berinteraksi dengan elemen-elemen yang lain seperti hardware, database, 
 dsb. Tahap ini sering disebut dengan Project Definition.

  • Software Requirements Analysis

   Proses pencarian kebutuhan diintensifkan dan difokuskan pada software.
 Untuk mengetahui sifat dari program yang akan dibuat, maka para software
 engineer harus mengerti tentang domain informasi dari software, misalnya fungsi yang
 dibutuhkan, user interface, dsb. Dari 2 aktivitas tersebut 
 (pencarian kebutuhan sistem dan software) harus didokumentasikan dan 
 ditunjukkan kepada pelanggan.

  • Design

   Proses ini digunakan untuk mengubah kebutuhan-kebutuhan diatas 
 menjadi representasi ke dalam bentuk “blueprint” software sebelum coding 
 dimulai. Desain harus dapat mengimplementasikan kebutuhan yang telah disebutkan 
 pada tahap sebelumnya. Seperti 2 aktivitas sebelumnya, 
 maka proses ini juga harus didokumentasikan sebagai konfigurasi dari software.

  • Coding

   Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer, 
 maka desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk yang dapat dimengerti 
 oleh mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrograman melalui proses coding. Tahap ini merupakan
 implementasi dari tahap design yang secara teknis nantinya dikerjakan oleh programmer.

  • Testing / Verification

   Sesuatu yang dibuat haruslah diujicobakan. Demikian juga dengan 
 software. Semua fungsi-fungsi software harus diujicobakan, agar software bebas dari error, 
 dan hasilnya harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang sudah didefinisikan sebelumnya.

  • Maintenance

   Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk di dalamnya adalah 
 pengembangan, karena software yang dibuat tidak selamanya hanya seperti itu.
 Ketika dijalankan mungkin saja masih ada errors kecil yang tidak ditemukan sebelumnya, 
 atau ada penambahan fitur-fitur yang belum ada pada software tersebut. Pengembangan 
 diperlukan ketika adanya perubahan dari eksternal perusahaan seperti ketika ada pergantian 
 sistem operasi, atau perangkat lainnya.

  • Mengapa model ini sangat populer???

   Selain karena pengaplikasian menggunakan model ini mudah, kelebihan 
 dari model ini adalah ketika semua kebutuhan sistem dapat didefinisikan 
 secara utuh, eksplisit, dan benar di awal project, maka SE dapat
 berjalan dengan baik dan tanpa masalah. 
   Meskipun seringkali kebutuhan sistem tidak dapat didefinisikan seeksplisit 
 yang diinginkan, tetapi paling tidak, problem pada kebutuhan sistem 
 di awal project lebih ekonomis dalam hal uang (lebih murah), usaha, 
 dan waktu yang terbuang lebih sedikit jika dibandingkan problem yang muncul 
 pada tahap-tahap selanjutnya.
   Meskipun demikian, karena model inimelakukan pendekatan secara urut / sequential, 
 maka ketika suatu tahap terhambat, tahap selanjutnya tidak dapat dikerjakan dengan baik
 dan itu menjadi salah satu kekurangan dari model ini. Selain itu, ada beberapa kekurangan
 pengaplikasian model ini, antara lain adalah sebagai berikut:
   Ketika problem muncul, maka proses berhenti, karena tidak dapat 
 menuju tahapan selanjutnya. Bahkan jika kemungkinan problem tersebut muncul 
 akibat kesalahan dari tahapan sebelumnya, maka proses harus membenahi tahapan 
 sebelumnya agar problem ini tidak muncul. Hal-hal seperti ini yang 
 dapat membuang waktu pengerjaan SE.
   Karena pendekatannya secara sequential, maka setiap tahap harus menunggu
 hasil dari tahap sebelumnya. Hal itu tentu membuang waktu yang cukup lama, 
 artinya bagian lain tidak dapat mengerjakan hal lain selain hanya menunggu hasil 
 dari tahap sebelumnya. Oleh karena itu, seringkali model ini berlangsung lama pengerjaannya.
   Pada setiap tahap proses tentunya dipekerjakan sesuai spesialisasinya masing-masing. 
 Oleh karena itu, ketika tahap tersebut sudah tidak dikerjakan, maka sumber dayanya juga 
 tidak terpakai lagi. Oleh karena itu, seringkali pada model proses ini dibutuhkan seseorang 
 yang “multi-skilled”, sehingga minimal dapat membantu pengerjaan untuk tahapan berikutnya.



   Keunggulan :

          1. Mudah aplikasikan
          2. Memberikan template tentang metode analisis, desain, pengkodean, pengujian, dan
       pemeliharaan



   Kelemahan :

          1. Pelanggan sulit untuk menyatakan kebutuhan secara eksplisit sehingga sulit untuk
       mengakomodasi ketidakpastian pada saat awal proyek.
          2. Pelanggan harus bersikap sabar karena harus menunggu sampai akhir proyrk dilalui.
       Sebuah kesalahan jika tidak diketahui dari awal akan menjadi masalah besar karena
       harus mengulang dari awal.
          3. Pengembang sering malakukan penundaan yang tidak perlu karena anggota tim
       proyek harus menunggu tim lain untuk melengkapi tugas karena memiliki 
       ketergantungan hal ini menyebabkan penggunaan waktu tidak efesien


  • Referensi:
 1.http://fopsoft.blogspot.sg/2013/09/metode-sdlc-model-waterfall.html
 2.http://mugiwaratandri.wordpress.com/2013/01/21/
 tugas- interaksi-manusia-dan-komputer/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar